Februari 18, 2013

Langkah Baca Puisi


BAB II
PEMBAHASAN
LANGKAH BACA PUISI

I.        Memilih Puisi
Langkah awal yang harus dilakukan oleh orang yang akan membaca puisi adalah memilih puisi yang akan dibacakan. Pemilihan puisi ini penting artinya karena akan menentukan berhasil tidaknya kita dalam membaca puisi. Ada dua hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih puisi, yaitu calon pendengar dan situasi. Hal pertama yang harus dipertimbangkan dalam memilih puisi adalah siapa calon pendengar dalam pembacaan puisi tersebut. Pendengar akan ikut menentukan model puisi yang harus kita baca karena pendengar memiliki kemampuan mencerna puisi dan selera yang berbeda-beda. Semakin banyak kita mengetahui pendengar, maka akan semakin teliti kita dalam memilih puisi.
Secara umum pendengar dapat dikategorikan kedalam dua golongan, yaitu pendengar khusus dan pendengar umum. Pendengar khusus berarti pendengar yang benar-benar mengerti puisi, sedangkan pendengar umum berarti pendengar yang tidak secara khusus mengenal puisi. Bagi pendengar khusus, menikmati pembacaan puisi tidak sekedar sebagai hiburan, namun bagi pendengar golongan umum memandang pembacaan puisi hanya sebatas hiburan. Oleh karena itu, pemilihan puisi untuk kedua golongan tersebut harus berbeda.
Selain pendengar, dalam menentukan puisi harus memahami situasi pembacaan. Langkah ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi pada saat membaca puisi. Tempat yang tertutup atau terbuka akan mempengaruhi pemilihan puisi, karena tingkat kesulitan puisi dan panjang pendeknya puisi harus selaras dengan tempat yang dipilih. Selain itu, suasana juga menentukan pemilihan isi puisi, karena setiap puisi membutuhkan corak yang berbeda.

II.        Memahami Puisi
Memahami puisi dimaksudkan agar kita bisa menyampaikan kepada pendengar atau penonton seperti yang diharapkan oleh jiwa puisi itu sendiri. Agar pemahaman isi puisi tersebut tidak salah tafsir, maka kita perlu membedah isi puisi tersebut. Terdapat dua hal yang harus ditemukan dalam pemahaman puisi, yaitu suasana dan makna puisi. Suasana puisi akan dipakai untuk memilih bentuk atau lagu pembacaan puisi, sedangkan makna dan amanat puisi akan digunakan untuk mengkomunikasikan puisi.

III.        Membuat Baris Pembacaan Puisi
Yang dimaksud dengan baris pembacaan puisi adalah baris puisi yang kita buat sendiri bukan oleh penyair yang telah kita sesuaikan dengan makna utuh baris-baris puisi tersebut. Misalnya pada puisi enjambemen, yaitu puisi yang terdapat pemotongan kalimat atau frase di akhir barisnya dan kemudian meletakkan potongan itu pada awal baris berikutnya. Pada puisi ini perlu dilakukan pembuatan baris pembacaan agar kita dapat menemukan makna dari puisi tersebut.
Perhatikan contoh penggalan puisi Asmaradana karya Goenawan Mohammad berikut!

ASMARADANA
Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun,
karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah
pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bima sakti,
yang jauh. Tapi diantara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.

Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta,
Nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.

Dengan model puisi Asmaradana seperti tersebut diatas, jika kita ubah menjadi baris-baris pembacaan akan menjadi kurang lebih sebagai berikut.

ASMARADANA
Ia dengar kepak sayap kelelawar
dan guyur sisa hujan dari daun, karena angin pada kemuning.
 Ia dengar resah kuda serta langkah pedati
ketika langit bersih kembali menampakkan bima sakti, yang jauh.
Tapi diantara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.

Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu.
Ia melihat peta, nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.

Dengan pembuatan baris pembacaan pada puisi tesebut memudahkan pembaca dalam memahami makna pada puisi tersebut.

IV.        Memberi Tanda Pemenggalan
Pemenggalan sendiri merupakan inti penghayatan. Setelah mengubah baris-baris puisi menjadi baris-baris pembacaan, langkah berikutnya yang harus dilakukan adalah menentukan pemenggalan dengan menunjukkan tempat-tempat yang tepat untuk memenggal dan mengambil nafas.
Perhatikan contoh berikut!

ASMARADANA
Ia dengar kepak sayap kelelawar/
dan guyur sisa hujan dari daun/ karena angin pada kemuning/
Ia dengar resah kuda/ serta langkah pedati/
ketika langit bersih kembali menampakkan bima sakti yang jauh/
Tapi diantara mereka berdua/ tidak ada yang berkata-kata/

Lalu ia ucapkan perpisahan itu/ kematian itu/
Ia melihat peta/ nasib/ perjalanan/ dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan/

V.        Pelatihan Baca Puisi
a.       Pelatihan Intonasi
Intonasi puisi disebut juga lagu puisi. Cara mengintonasi puisi tergantung pada suasana puisi. Berlatih mengintonasikan puisi harus berpegang pada prinsip bahwa membaca puisi adalah upaya untuk mengekspresikan dan mengkomunikasikan puisi. Mengintonasikan puisi pada satu sisi harus keluar dari hari sebagai wujud penghayatan terhadap puisi. Dan pada sisi lain harus memperhatikan pelafalan yanag jelas untuk mengkomunikasikan hal-hal yang terkandung dalam puisi.
b.      Pelatihan Tampil di Panggung
Dalam pelatihan tampil di panggung, terdapat enam unsur yang perlu diperhatikan. Yaitu teknik muncul, membaca judul puisi, berdiri di atas dua kaki, memegang teks, pandangan mata, dan membangun kesadaran panggung.
Teknik muncul mempunyai tiga prinsip yang harus dipegang, yaitu membaca puisi merupakan proses komunikasi, merupakan seni pertunjukkan, merupakan media berekspresi.
Pada unsur yang kedua, pemilihan bentuk pembacaan judul puisi ditentukan oleh penonton. Untuk penonton khusus yang paham dunia puisi bisa menggunakan berbagai model. Sedangkan untuk penonton awam, harus disuguhi dengan model yang lazim. Hal tersebut dikarenakan, penonton khususlah yang dapat menerima model pembacaan judul puisi dengan gaya yang tidak biasa, namun penonton umum akan lebih bisa menerima jika model pembacaan judul puisi biasa-biasa saja.
Pada unsur yang ketiga, yaitu berdiri di atas dua kaki akan membantu kita dalam berkonsentrasi. Konsentrasi itulah yang nantinya akan berpengaruh pada penghayatan dan keseluruhan aspek pembacaan puisi. Selain berkaitan dengan konsentrasi, posisi kaki juga berkaitan dengan keleluasaan kita dalam bergerak (penampilan).
Memegang teks juga berkaitan dengan konsentrasi dan penampilan. Jika cara memegang teks kurang tepat, misalnya saja menutupi wajah, akan mengganggu proses interaksi antara pembaca dan penonton.
Selanjutnya pandangan mata berpengaruh pada proses komunikasi dengan penonton, karena pada waktu membaca puisi, pembaca berdialog dengan penonton. Pandangan mata memang harus diarahkan ke penonton, tetapi tidak boleh diarahkan tepat pada mata penonton, juga tidak boleh memandang pada bagian bawah atau atas penonton.
Dan yang terakhir adalah membangun kesadaran panggung. Prinsip yang digunakan dalam pemilihan posisi di panggung adalah prinsip seni pertunjukkan yang berimplikasi pada tuntutan bahwa seni baca puisi haruslah enak didengar dan enak dipandang. Maka dari itu, penggunaan panggung dalam hal ini menjadi amat penting peranannya.

Aspek Pembelajaran Sastra


*      Varian Baca Puisi:
1.       Teatrikal: seni music, seni rupa. Seni gerak dalam dialog (dialog juga bias terjadi dengan gerak atau gesture tanpa kata).
2.       Sinematisasi: Orang tidak tampak, suara terdengar
3.       Dramatisasi: Menggabungkan puisi dan drama dalam dialog
4.       Musikalisasi: Menggabungkan seni baca puisi dengan seni music
5.       Rampak: Paduan baca puisi

*      Perbedaan antara deklamasi dan baca puisi terletak pada teks.
1.       deklamasi    : berpuisi tanpa teks
2.       baca puisi    : menggunakan teks (membaca)

*      Hakikat baca puisi :
1.       Seni pertunjukan (audio visual)
2.       Bentuk komunikasi (penyampai)

Analisis Novel Layar Terkembang


Analisis novel layar terkembang

  1. Sinopsis
Raden Wiriaatmadja memiliki dua orang anak gadis yang sifatnya sangat berbeda, yaitu Tuti dan Maria. Anak pertamanya, Tuti, adalah seorang gadis yang pembawaannya selalu serius sehingga gadis itu cenderung pendiam. Namun, ia sangat perpendirian teguh dan aktif dalam berbagai organisasi wanita. Ia bahkan aktif dalam memberikan orasi-orasi tentang persamaan hak kaum wanita. Pada saat itu, semangat kaum wanita sedang bergelora sehingga mereka mulai menuntut persamaan dengan kaum pria.
Anak keduanya adalah Maria. Ia memiliki sifat yang lincah, sangat periang dan bicaranya ceplas-ceplos. Ia sangat mudah bergaul dan hidupnya selalu penuh dengan keceriaan. Itulah sebabnya, semua orang yang berada di dekatnya pasti akan menyenangi kehadirannya.
Pada suatu sore, kedua kakak beradik ini berjalan-jalan ke sebuah pasar ikan. Ketika mereka sedang melihat ikan-ikan dalam akuarium, mereka berkenalan dengan seorang pemuda tampan yang bernama Yusuf. Ia adalah seorang mahasiswa kedokteran. Pada hari itu juga, Yusuf mengantarkan kedua gadis itu sampai di rumah mereka.
Sejak pertemuan pertamanya, Yusuf selalu membayangkan Maria yang sangat periang, lincah, dan suka berbicara ceplas-ceplos. Ia menaruh hati kepada gadis itu. Wajah Maria selalu terbayang-bayang di matanya. Senyumnya dan tingkahnya yang periang membuat pemuda itu merasa senang berada di sampingnya.
Takdir kembali mempertemukan Yusuf dengan Maria dan kakaknya di depan Hotel Des Indes. Dengan senang hati, Yusuf mengantarkan kedua kakak beradik itu berjalan-jalan. Setelah pertemuan tersebut, Yusuf menjadi lebih sering berkunjung ke rumah mereka. Beberapa waktu kemudian Yusuf dan Maria sepakat menjalin hubungan cinta kasih.
Sementara itu, Tuti melihat hubungan cinta kasih adiknya sebenarnya berkeinginan pula untuk memiliki seorang kekasih. Apalagi setelah ia menerima surat cinta dari Supomo. Namun, karena pemuda itu bukanlah idamannya, ia menolak cintanya. Sejak itu hari-harinya semakin disibukkkan dengan kegiatan organisasi dan melakukan kegemarannya membaca buku sehingga ia sedikit melupakan angan-angannya tentang seorang kekasih.
Pada suatu hari keluarga Raden Wiraatmadja dikejutkan oleh hasil diagnosa dokter yang menyatakan bahwa Maria mengidap penyakit TBC. Semakin hari kesehatan gadis itu semakin melemah sekalipun ia telah menjalani perawatan intensif. Hal ini membuat Yusuf merasa sedih. Pemuda itu mendampingi kekasih hatinya dengan setia. Namun, penyakit TBC yang diderita Maria semakin hari semakin parah sehingga tak lama kemudian Maria pun meninggal dunia. Sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia meminta kekasihnya untuk menerima kakaknya sebagai penggantinya.
Setelah Maria meninggal dunia, Tuti dan Yusuf menjalin hubungan kasih. Mereka sepakat untuk menikah.

b. Unsur instrinsik

1. Tokoh dan Penokohan
Tuti : seorang wanita yang memiliki wawasan dan pemikiran modern. Ia mencoba menyamakan hak kaum wanita dengan kaum pria.
Maria : adalah adik Tuti, yang sangat periang.
Yusuf : seorang pemuda terpelajar yang modern. Ia adalah mahasiswa kedokteran. Sifatnya baik hati dan berbudi luhur.
Supomo : seorang pemuda terpelajar yang baik hati dan berbudi luhur.

2. Tema:
Roman ini memperkenalkan masalah wanita Indonesia yang mulai merangkak pada pemikiran modern. Kaum wanita mulai bangkit untuk memperjuangkan hak-haknya sebagai wanita, berwawasan luas, serta bercita-cita mandiri. Masalah lain yang dipersoalkan dalam roman ini, yaitu masalah kebudayaan barat dan timur. Juga termasuk masalah agama. Roman ini menampilkan cinta kasih antara Yusuf, Maria, dan Tuti.
3. Amanat atau Pesan
-Cinta dan pengorbanan kadang selalu berjalan seiring.
- Dibalik kelebihan seseorang terdapat kelemahan.

4. Latar :
- Tempat : Jakarta
- Waktu : Tahun 30-an

5. Alur : Maju

6. Sudut Pandang : Orang ke-3

7. Gaya Penulisan : Romantisme

c.       unsur ekstrinsik

Biografi Pengarang
Sutan Takdir Alisjahbana dilahirkan di Natal, 11 Februari 1908. Beliau menyelesaikan pendidikannya dari HIS ditempuh sejak 1915-1921. Tahun 1921-1925 Takdir menempuh pendidikan Kweekschool di Bukit Tinggi yang kemudian dilanjutkan ke Hugere Kweekschool di Bandung. Pada tahun 1937-1942 Takdir menjalani pendidikan di Rechtschogeschool di Jakarta. Pendidikan di Fakultas Sastra ditempuhnya tahun 1940-1942. Pada tahun 1979 Takdir mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa untuk Ilmu Bahasa dari Universitas Indomesia dan pada tahun 1987 mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa untuk Ilmu Sastra dari Universiti Sains Malaysia.
Karya-karyanya:
Tak Putus Dirundung Malang, Dian yang Tak Kunjung Padam, Anak Perawan di Sarang Penyamun, Grotta Azzura, Tebaran Mega, Lagu Pemacu Ombak, Perempuan di Persimpangan Zaman, dan Kebangkitan.
Di samping karya-karya fiksi, Takdir juga menulis karya-karya nonfiksi yang antara lain adalah Kebangkitan Puisi Baru Indonesia, Perjuangan Tanggungjawab dalam Kesusastraan Indonesia, dan Amir Hamzah sebagai penyair dan Uraian Sajak Nyanyi Sunyi.